Selamat Datang

Selamat datang di tbp-unj.blogspot.com. Blog ini merupakan blog pembelajaran Teori Belajar dan Pembelajaran.

Jumat, 28 Oktober 2011

Pendekatan Multiple Intelligences

Pemahaman mengenai kecerdasan yang dimiliki manusia dalam konteks belajar merupakan sesuatu yang penting. Karena itu kajian tentang kecerdasan manusia perlu dikemukakan. Dalam literatur tentang kecerdasan bisa ditemukan dalam pemikirannya Howard Gardner tentang kecerdasan jamak (multiple intelegence). Howard Gardner adalah seorang profesor psikologi di Harvard University Amerika Serikat.
Menurut Gardner, Intelegensi (kecerdasan) diartikan sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang beragam dan dalam situasi yang nyata (1983, 1993). Menurutnya suatu kemampuan disebut intelegensia (kecerdasan) jika: (1) menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang dalam memecahkan persoalan dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya, (2) ada unsur pengetahuan dan keahlian, (3) bersifat universal harus berlaku bagi banyak orang, (4) kemampuan itu dasarnya adalah unsur biologis, yaitu karena otak seseorang, bukan sesuatu yang terjadi karena latihan atau training, (5) kemampuan itu sudah ada sejak lahir, meski di dalam pendidikan dapat dikembangkan. Adapun pokok-pokok pikiran yang dikemukakan Gardner adalah; 1) Manusia memiliki kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasannya, 2) Kecerdasan selain dapat berubah dapat juga diajarkan kepada orang lain, 3) Kecerdasan merupakan realitas majemuk yang  muncul di bagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia, 4) pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh, maknanya, dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam kecerdasan manusia bekerja secara bersama-sama.
Teori kecerdasan ganda yang telah dikembangkan selama lima belas tahun terakhir ini menantang keyakinan lama tentang makna cerdas. Gardner berpendapat bahwa kebudayaan kita telah terlalu banyak memusatkan perhatian pada pemikiran verbal dan logis, kemampuan yang secara tipikal di nilai dalam tes kecerdasan dan mengesampingkan pengetahuan lainnya. Ia menyatakan sekurang-kurangnya ada sembilan kecerdasan yang patut diperhitungkan secara sungguh-sungguh sebagai cara berpikir yang penting. Kesembilan kecerdasan tersebut adalah:
a.Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata. Ini merupakan kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat beragumentasi, menyakinkan orang, menghibur, atau mengajar dengan efektif      lewat kata-kata yang diucapkannya.
     b.Kecerdasan Logis-Matematis
Kecerdasan logis-matematis adalah kecerdasan dalam hal angka dan logika. Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan pemogram komputer. Ciri-ciri orang yang cerdas secara logis-matematis mencakup kemampuan penalaran, mengurutkan, berpikir dalam tentang sebab akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola        numerik, dan pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional.
c.       Kecerdasan Spasial
Kecerdasan spasial mencakup berpikir dalam gambar, serta kemampuan untuk mencerap, mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Orang dengan tingkat kecerdasan spasial yang tinggi hampir             selalu mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam tiga dimensi.
d.      Kecerdasan Musikal
Ciri utama kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mencerap, menghargai, dan menciptakan irama dan melodi. Kecerdasan musikal juga dimiliki orang yang          peka nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dapat mendengarkan berbagai karya musik dengan tingkat ketajaman tertentu.

e.       Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan dan kepekaan terhadap alam sekitar. Kemampuan yang tinggi untuk membedakan berbagai jenis tumbuhan secara mendalam. Kemampuan untuk menghubungkan materi pelajaran dengan fenomena alam. Seseorang yang  memiliki kecerdasan naturalis ini sangat menyukai binatang ataupun tanaman. Pembicaraan dengannya akan makin menarik dan kreatif jika dimulai dengan mengangkat tema tentang binatang dan alam. Bahkan membawa binatang atau tanaman tertentu di dalam proses pembelajaran adalah hal yang disukainya. Kecerdasan ini banyak dimiliki para oleh para pakar lingkungan. Seorang yang tinggal di pedalaman mampu membedakan daun-dauan yang dapat dimakan, daun yang digunakan sebagai tanaman obat atau  tanaman yang mengandung racun.
f.       Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
Adalah kecerdasan fisik, kecerdasan ini mencakup bakat dalam mengendalikan gerak tubuh dan keterampilan dalam menangani benda. Atlet, pengrajin, montir, dan ahli bedah mempunyai kecerdasan kinestetik-jasmani tingkat tinggi. Orang   dengan kecerdasan fisik memiliki keterampilan dalm menjahit, bertukang, atau merakit model. Mereka juga menikmati kegiatan fisik, seperti berjalan kaki, menari, berlari, berkemah, berenang, atau berperahu. Mereka adalah orang-orang yang cekatan, indra perabanya sangat peka, tidak bisa tinggal diam, dan berminat   atas segala sesuatu.


g.      Kecerdasan Antarpribadi
Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerja sama dengan orang    lain. Kecerdasan ini terutama menuntut untuk mencerap dan tanggap terhadap suasan hati, perangai, niat, dan hasrat orang lain. Pada tingkat yang lebih tinggi, kecerdasan ini dapat membaca konteks kehidupan orang lain, kecendrungannya dan kemungkinan keputusan yang akan diambil. Profesional, guru,  teraphis, politisi umunya memiliki kecerdasan ini.

h.      Kecerdasan Intrapribadi (Dalam diri sendiri )
Orang yang kecerdasan intrapribadinya sangat baik dapat dengan mudah mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai macam keadaan emosi, dan menggunakan pemahamannya sendiri untuk memperkaya dan membimbing        hidupnya. Contoh orang yang mempunyai kecerdasan ini, yaitu konselor, ahli teologi, dan wirausahawan. Mereka sangat mawas diri dan suka bermeditasi,           berkontemplasi, atau bentuk lain penelusuran jiwa yang mendalam. Sebaliknya mereka sangat mandiri, sangat terfokus pada tujuan, dan sangat disiplin. Secara garis besar, mereka merupakan orang yang gemar belajar sendiri dan lebih suka bekerja sendiri dari pada bekerja dengan orang lain.

i . Kecerdasan Eksistensialis
Kecerdasan eksistensialis adalah kecerdasan yang cenderung memandang masalah-masalah dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh serta menanyakan ”untuk apa” dan ”apa dasar” dari segala sesuatu. Kecerdasan ini banyak dijumpai pada para filusuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya di dunia ini  dan apa tujuan hidupnya.
Lalu, apa bukti teoritis keunggulan dari teori kecerdasan majemuk ini? Para ahli pendidikan dan psikologi mengemukakan bahwa yang membuat teori Gardner unggul adalah adanya dukungan riset dari berbagai bidang termasuk antropologi, psikologi kognitif, psikologi perkembangan, psikometri, studi biografi, fisiologi, hewan, dan neuroanatomi. Gardner menetapkan syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan agar dapat dimasukkan ke dalam teorinya. Empat di antaranya adalah :
1.Setiap kecerdasan dapat dilambangkan
Teori kecerdasan jamak menyatakan bahwa kemampuan untuk melambangkan atau            melukiskan ide dan pengalaman melalui gambar, angka, atau kata merupakan     kecerdasan manusia. Teori kecerdasan ganda menyatakan bahwa setiap kecerdasan dapat dilambangkan dalam berbagai cara.
2.Setiap kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan
Menurut teori kecerdasan jamak, setiap kecerdasan muncul pada titik tertentu di masa kanak-kanak, mempunyai periode yang berpotensi untuk berkembang selama rentang hidup, dan berisikan pola unik yang secara perlahan atau cepat semakin  merosot, seiring dengan menuanya seseorang. Sebaliknya, pemikiran logis-matematis mempunyai pola perkembangan yang berlainan. Kecerdasan ini muncul sedikit lebih lambat pada masa kanak-kanak, memuncak pada masa remaja atau awal dewasa, dan kemudian merosot dalam usia selanjutnya.
3.Setiap  kecerdasan rawan terhadap cacat akibat kerusakan atau cedera pada wilayah otak tertentu
Teori kecerdasan jamak (multiple-intelengence) meramalkan bahwa kecerdasan dapat terisolasi akibat kerusakan otak. Gardner menegaskan bahwa setiap teori kecerdasan baru dapat berlaku bila berdasarkan biologi, artinya berakar pada psikologi struktur otak. 
4.Setiap kecerdasan mempunyai keadaan akhir berdasar nilai budaya.
Teori kecerdasan jamak menyatakan bahwa perilaku cerdas dapat ditinjau dari melihat prestasi tertinggi dalam peradaban bukan dengan mengumpulkan skor jawaban dari berbagai tes standar. Keterampilan tes IQ yang sering digunakan, seperti kemampuan untuk menyebutkan bilangan acak secara mundur atau maju, atau kemampuan menyelesaikan masalah anologi, mempunyai nilai budaya yang terbatas.Teori kecerdasan ganda menyatakan bahwa kita dapat mempelajari makna menjadi cerdas dengan sangat baik dengan mempelajari contoh  karya budaya yang paling sukses pada kedelapan bidang itu. Lebih jauh, teori kecerdasan jamak menyambut baik keanekaragaman cara berbagai macam kebudayaan memperlihatkan perilaku ceramah. Teori kecerdasan jamak percaya bahwa setiap kecerdasan mempunyai proses kognitif yang terpisah dalam bidang memori, perhatian, persepsi, dan pemecahan masalah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar